facebook likes google exchange

Minggu, 05 Februari 2012

Tahun Naga Emas, Investasi Emas Tak Berkilau


Memasuki tahun Naga Emas, banyak pengamat optimistis perekonomian Indonesia akan semakin membaik dibandingkan negara-negara lain di dunia. Sayangnya, hal itu tak diikuti oleh pergerakan harga logam mulia, khususnya emas, yang diprediksi bakal melorot. 

Analis trader dan investasi emas, Mulyadi Tjung, menuturkan pada 2012 harga emas akan turun atau mendatar karena sangat berkorelasi negatif dengan naik turunnya dolar Amerika Serikat (AS).

"Banyak analis mengatakan dolar AS akan menjadi primadona di 2012, kemungkinan penguatan dolar AS dapat menghambat kenaikan harga emas," kata Mulyadi ketika berbincang dengan VIVAnews.com di Jakarta, Kamis, 5 Januari 2012.

Mulyadi cukup yakin dengan penguatan nilai tukar dolar AS, karena melemahnya nilai euro yang secara otomatis akan menopang kenaikan mata uang Negara Paman Sam itu.
Dengan berbagai kondisi tersebut, Mulyadi berpendapat hampir seluruh faktor yang ada pada 2012 lebih banyak menghambat kenaikan harga emas.

"Tetapi faktor ketidakpastian juga banyak, misalnya ketegangan Iran dan AS. Akankah ada quantitative easing III di AS, yang bisa menyebabkan penurunan dolar AS," ungkapnya.

Mulyadi memperkirakan harga emas pada 2012 akan bergerak mendatar (sideways) dengan kisaran US$1.500-1.900 per troy ounce. "Sulit rasanya untuk mencetak rekor baru. Fluktuasi jangka pendek pasti ada," kata dia.

Namun, Mulyadi menegaskan, setiap terjadi penurunan harga emas yang cukup tinggi, momen itu bisa dianggap waktu yang tepat bagi investor untuk menambah kepemilikan emasnya.

Terkait prediksi sejumlah pengamat bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada 2012 akan bagus, menurut Mulyadi, faktor itu tidak akan banyak berpengaruh pada harga emas di Tanah Air.

"Kecuali nanti memang rupiah mengalami penguatan yang signifikan terhadap dolar AS, bisa jadi emas secara rupiah turun nilainya," ujarnya.

Dia memperkirakan, periode harga emas berada di masa kritis adalah awal tahun ini. "Masa yang kritis sebenarnya adalah kuartal pertama ini. Jika tidak ada hasil pertemuan yang memuaskan untuk masalah utang Uni Eropa, otomatis euro melemah, dan dolar AS menguat serta emas melemah," tegasnya. (art)

Sumber • VIVAnews 


0 komentar:

Poskan Komentar

Ikuti Postingan Terbaru Kami Dari Email